Sabtu, 29 November 2014 0 komentar

Waktu

Waktu,
berlari, kencang, jauh meninggalkanku..
kenapa kau terlalu cepat?
apa aku yang melambat?

Waktu,
terbang, melayang, ke angkasa.
kenapa kau begitu tinggi?
apa aku yang terlalu rendah?

Waktu,
bergerak bebas, tanpa batas.
kenapa kau begitu jauh?
apa aku yang diam?

Waktu,
Suatu saat aku bersamamu,
Hanya ada aku, kamu dan bahagia.
Jumat, 28 Maret 2014 0 komentar

Tak sempat

Bocah kecil lugu jauh dari kasih sayang. Sang ratu sibuk, bukan tanpa maksud, justru itu wujud kasih sayang. Bocah itu mengejar cita, merenda asa, Dengan pelukan tangan wanita, bukan tempatnya bersandar. Hujan, panas, selalu bersama, tak pernah lelah menjaga. Masa kecilnya selalu bahagia, walau bukan rumahnya. Wajah tua itu dengan sabar menuntunya, menggendongnya walau bukan bundanya. Hingga suatu saat nanti, bocah kecil berjanji pada wanita tua. Ketika kaki bisa berjalan sendiri, sebuah penghargaan akan dipersembahkan. Hanya celotehan anak-anak, namun berbekas. Berpuluh tahun berlalu, jarang bersua. Hingga pada akhirnya, waktu itu datang. Hati pekat berjelaga, wanita tua kini telah tiada. Tak sempat bocah kecil itu membalas jasanya. Tuhan bersamanya, ditempat itu wanita tua akan bahagia.

Dedicated for Mbah Karto, thanks for everything. Allah will give the best place for you, amien.
Senin, 17 Maret 2014 0 komentar

Secepat, sedalam dan sesingkat ini

Rutinitas pencari gelar sarjana, puluhan orang duduk, menunggu, berharap di sisi depan fakultas. Namun, kali ini beda, tak seperti biasanya, angin seolah berhembus, segar, pandangan tertuju pada satu makhluk, tak satupun kata terucap, namun penuh tanya. Siapakah gerangan? Wajah lesu, bingung, seolah berburu dengan waktu. Dalam hati berkata, tenang gadis, take it slowly, mari bercengkrama. Dibalik raut wajah muram, tetap terpancar keindahan. Batin bergejolak, siapa kah gadis manis ini? Ribuan teori dan metode di dalam otak sementara terhapus oleh wajahnya. Bagai penawar pusing dan peredam nyeri paling ampuh. Sekejap hilang dan tersisa tanya dan rasa penasaran. Ah, mungkin hanya sepintas dan hal yang biasa, sekali dan tidak akan ada lagi. Tak disangka, di lain hari, kembali nampak paras itu diantara wajah-wajah penuh harap namun tetap dihiasi senyum dan tawa disekitarnya. Dia lagi? Siapakah dia? Dia yang kemaren mengusik pikiran. Kali ini tak boleh lepas, Maha Pencipta punya rencana. Sendiri, berjuang and finally ada sedikit titik terang. Diam, tidak ada respon, bahkan kalimat sinis ketika di awal. Tak berhenti di sana, pejuang tak akan berhenti sebelum perang. Kalah menang itu urusan belakang. Proses, ya segala sesuatu butuh proses. seperti naik gunung tak mungkin langsung di puncak, mendaki dulu. Tak ada yang sia-sia pada setiap usaha, semakin kenal tak lagi sinis, semakin dekat dan nyaman ketika bersama gadis ini. Semakin dekat dan dekat, dan baru tahu dia telah berdua. Tak ada yang salah, dari awal hanya ingin mengenal. Namun, hati berkata lain, rasa yang tak biasa. Semua jadi berubah, paras cantik dan pribadi yang unik menjadi alasan, siapapun pasti tak ingin pergi dari sesuatu yang dirasa nyaman, tak kuasa membendung rasa dalam dada. Seperti kapal yang menemukan pelabuhan, disanalah tempat berlabuh. Gayung bersambut, dia merasakan hal yang sama. Perasaan tak biasa, padahal ada hati yang telah dimiliki. Sebenarnya tak sekompleks teori darwin atau albert einstein, hanya masalah 3 hati yang saling berkaitan. Namun, tak bisa dipaksakan, belajar sabar dan ikhlas, buang ego dalam diri, mereka berhak bahagia. Tak pernah menyesal, tak ada yang salah dengan pertemuan. Semua sudah diatur oleh Maha Cinta, tak ada yang salah dengan cinta. Benteng kuat, tembok beton pun mungkin tak mampu membendung perasaan ini. Tak pernah sependapat dengan istilah cinta tak harus memiliki, kalau cinta ya harus memiliki. Namun, kali ini lain, terpaksa harus mengikuti istilah itu. Saling suka tak harus bersama, denganya dia lebih bahagia. Saling melepaskan, berat? Pelan-pelan suatu saat pasti lepas. Sakit? Suatu saat akan sembuh dan normal kembali. Jika apa yang kita inginkan lantas kita miliki darimana kita belajar ikhlas. Jika apa yang kita impikan terwujud, darimana kita belajar sabar. Jika semua do'a kita dikabulkan darimana kita belajar ikhtiar. Semoga kau bahagia gadis cianjur, semua berawal di sana, di kampus kita, di sana juga kita berpisah. Jabat tangan penuh makna menjelang kepergianmu. Senang bisa bertemu, bisa kenal bahkan sayang. Raga mungkin tak bisa kau miliki, tapi hati ini untukmu sampai kapanpun. Secepat rasa itu datang, sedalam rasa itu merasuk, dan sesingkat itu kau pergi. I love you.
0 komentar

Pancaroba

Musim pancaroba, masa dimana akan terjadi pergantian musim, dari musim yang satu ke musim yang lain. Masa transisi yang membuat cuaca tidak menentu dan kurang bersahabat bagi tubuh. Kondisi tubuh, badan harus tetap kuat dan fit agar bisa bertahan pada musim ini. Begitu juga dalam kehidupan, akan ada masa dimana kalian mengalami pancaroba, atau masa transisi. Proses dari dunia pendidikan ke dunia kerja. Sama seperti musim, jika pergantian musim harus menjaga kondisi dan kesehatan, pancaroba dalam kehidupan pun begitu, butuh kekuatan dan usaha agar bisa bertahan. Tenang, semua akan terlewati, musim pasti berganti. Tetaplah kuat pada masa transisi ini, semua sudah diatur Sang Maha Agung.
Selasa, 31 Desember 2013 0 komentar

catatan yang benar-benar usang

sudah lama tak melihat catatan usang ini, ternyata sudah ditumbuhi banyak ilalang,
hampir 1 tahun ternyata tidak terjamah,
sebelum tambah usang mencoba kembali menulis. akan kusapu ialalng dan kutanami bunga.
biar ketika saya tinggal lama sekalipun akan tetap wangi..


Senin, 14 Januari 2013 0 komentar

Peluk Aku 3 Menit (part1)


Kriiingg, bunyi handphone berdering membangunkan Kevin dari tidurnya. Dengan mata masih terpejam, Kevin mengangkatnya. Suara wanita lembut dan manis terdengar dari handphone.
''sayang bangun dong, sholat subuh dulu.
''iya sayang makasih ya,'' jawab Kevin dengan suara yang masih serak.
Kemudian Kevin bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka, wudhu kemudian segera sholat subuh.
Ritual semacam ini memang berlangsung setiap hari. Reva, pacar Kevin yang sedang kuliah di Bandung memang sangat perhatian. Kevin sendiri kuliah di salah satu Universitas Negeri di kota Solo. Jarak memang memisahkan mereka sekitar dua tahun lalu. Walaupun dipisahkan oleh jarak, mereka berdua memutuskan untuk tetap komitmen terhadap hubungan mereka. Bagi mereka jarak bukan halangan untuk menjalin sebuah hubungan. Perhatian dan kasih sayang tetap bisa ditunjukkan walau hanya lewat sms atau telepon.
Karena kesibukan masing-masing, mereka berdua juga jarang untuk bertemu. Dalam setiap bulan mereka hanya bisa bertemu 1-2 kali. Namun, semua itu tidak mengganggu hubungan mereka selama 3 tahun ini. Walaupun banyak halangan, dari hari ke hari hubungan mereka malah semakin mesra. Karena bagi mereka kunci sebuah hubungan adalah setia dan saling percaya. Oleh karena itu mereka sangat menikmati hubungan jarak jauh ini.
Reva berpacaran dengan Kevin sejak mereka berdua masih duduk di bangku Sma. Setelah lulus Sma, Reva memutuskan untuk meninggalkan kota Solo. Dia diterima di salah satu Universitas di Bandung. Reva tinggal di sebuah kontrakan bersama sahabatnya, Devi. Devi merupakan mahasiswi yang berasal dari Bali. Reva sangat dekat dengan Devi, mereka berdua sering curhat tentang banyak hal. Mulai dari keluarga, pacar, masalah kuliah dan banyak hal. Hampir setiap hari mereka selalu berdua kemana-mana.
Suatu hari Reva bertanya sesuatu kepada Devi.
''Beb, kado apa ya yang cocok buat cowok?
''Ya kasih aja yang dia suka dan bisa dipakai setiap saat, misalnya kaos atau jaket,'' jawab Devi.
Yaudah aku mau kasih jaket aja, kayaknya juga cocok untuk musim hujan kayak gini.
Dua hari kemudian pak pos membawa sebuah bungkusan ke rumah Kevin.
''Benar ini rumahnya saudara Kevin?,''tanya pak pos.
''iya pak benar ada apa ya?
''ini mas, ada kiriman dari Reva di Bandung.
''oh iya pak terima kasih,
Setelah pak pos pergi Kevin segera membuka kiriman itu karena penasaran.  Sebuah jaket berwarna merah dengan sebuah kartu ucapan yang berbunyi, Happy birthday sayang..
Dipake ya biar inget aku terus..
Bahagia dan terharu, itulah perasaan Kevin saat itu walaupun jauh Reva masih sempat memberikan kado di ulang tahunya.
Kevin segera menelpon Reva pujaan hatinya. Bersambung. . .
0 komentar

Peluk Aku 3 Menit (part 4)

''Minggu kemarin Reva telah meninggalkan kita semua. Tolong nak Kevin mengikhlaskanya ya.
apaaa???,'' jawab Kevin bak kesambar petir di siang bolong.
Tidak sepatah katapun yang terucap di mulut Kevin, handphone yang dia pegang pun terjatuh. Perasaan sedih yang luar biasa pada saat itu, tubuh Kevin langsung lemas seakan tak ada tenaga. Air matapin mulai membasahi pipinya.
''Kenapa Tuhan, kenapa ini terjadi pada Reva!
Aku cinta mati kepada Reva, kenapa kau mengambilnya, kenapa?
Engkau tidak adil Tuhan! Kenapa harus Reva, kenapa tidak orang lain?
Kevin masih tidak percaya apa yang telah terjadi. Dia masih tidak terima atas apa yang menimpa terhadap Reva.
Setelah seminggu keadaan Kevin sudah mulai membaik, dia sudah mulai menerima dan ikhlas atas kepergian Reva. Namun tidak bisa dipungkiri, perasaan sedih masih menggelayutinya.
Datang seorang lelaki berumur belasan tahun ke rumah Kevin, Didi rupanya yang datang.
''Eh didi, ada apa? masuk dulu sini.
''gak usah kak cuma bentar kok, sebelumnya maaf tidak sempat memberi tahu tentang kak Reva.
''yaudah gak papa, semua sudah terjadi gak ada yang perlu disesali.
''aku cuma mau ngasih ini kak.
Didi memberikan sebuah buku semacam diary.
''apa ini dek?
''itu diary milik kak Reva, sebelum meninggal dia berpesan untuk memberikan diary ini kepada kak Kevin. Tolong nanti buka halaman terakhir.
''Iya dek makasih ya,
''sama-sama kak, aku langsung pamit ya.
Setelah itu, Kevin membawa diary milik Reva ke kamarnya. Dibolak balik dari halaman awal, berjajar tulisan yang rapi berisi tentang kehidupan Reva. sampailah Kevin pada halaman terakhir yang disebutkan Didi tadi. Di halaman itu terdapat sebuah tulisan yang lumayan panjang. Setiap membaca kata demi kata Kevin meneteskan air mata dan tak mampu berkata apapun. Sebuah tulisan terkahir dari Reva untuk kekasihnya :
Sayang,
ketika kamu baca tulisan ini mungkin aku sudah tidak ada di dunia. Maaf tidak pernah memberitahu tentang hal ini, karena aku tidak ingin membuat kamu khawatir. Sebenarnya aku sudah lama mempunyai penyakit parah. Aku punya penyakit kanker otak, itu alasan kenapa aku sering mengeluh sakit. Semakin hari penyakit itu semakin parah dan menggerogoti otaku. Dan pada akhirnya dokter memvonis kalau hidupku tidak lama lagi. Sedih, terpukul pada saat itu, karena sebentar lagi aku bakal meninggalkan orang-orang yang sangat aku sayangi. Papa, mamah, Didi, Kamu, Devi dan teman-teman yang lainnya. Namun, itu adalah kenyataan yang harus aku jalani. Mungkin Tuhan lebih sayang  padaku, sehingga memanggilku lebih cepat.
Sayang,
Terima kasih sudah menjadi bagian hidupku, terima kasih sudah membuat hidupku menjadi lebih berwarna. Memilikimu adalah takdir, bersamamu adalah kebahagiaan dan mencintaimu adalah anugrah terindah.
Kamu adalah pria terhebat yang pernah aku temui.
Sayang,
Inget gak waktu aku suruh kamu datang ke Bandung,itu mungkin permintaan aku terakhir kali.
karena aku lama sekali pengen ke kebun teh bersamamu, di sisa umurku aku ingin sekali bisa kesana.
dan kemarin akhirnya kamu memenuhinya.
dan kenapa pelukan di kebun teh itu aku minta cukup lama, karena 3 menit itu menjadi pelukan terkahir untukku.
Sayang,
Mungkin di dunia kita belum jodoh, tapi aku yakin suatu saat nanti kita akan bertemu di alam sana nanti. Alam yang lebih indah dari dunia. Alam yang akan menjadi tempat untuk kita berdua selamanya.
Semoga kamu dapat pengganti yang lebih cantik, lebih baik dan lebih segalanya dariku.
Yang bisa menerima kamu apa adanya.
Karena aku ingin melihatmu bahagia.
Sayang,
Terima kasih sudah bersamaku selama 3 tahun ini. Terima kasih untuk kasih sayang yang kau berikan. Terima kasih udah menjadi terang dalam gelapku.Maafkan aku jika sering cerewet, jutek, itu semua karena aku sayang sama kamu.
Yaudah sayang, jaga diri kamu baik-baik ya.
Salam buat semua keluarga dan teman-teman.
Aku cinta kamu Kevin!!
                                                                                                                                                                                                                                                           
With Love
 Reva

0 komentar

Peluk Aku 3 Menit (part 3)

Tampak raut muka bahagia tergambar jelas di wajah mereka saat itu.
Namun, suasana sedikit berubah ketika Reva berbicara sesuatu kepada Kevin.
''Sayang, indah banget ya suasananya, apalagi ada kamu disamping aku.
''iya sayang, makasih ya udah membawaku ke tempat seperti ini.
''iya sayang, tapi apa bisa ya aku merasakan suasana kayak gini lagi. Atau mungkin ini yang terakhir.
''Husss, apaan sih, gak boleh bilang gitu,''sahut Kevin.
''ya kan semuanya kita gak tau yang .
''Iya, tapi gak boleh ngomong kayak gitu.
Mereka berdua bercerita banyak hal dan pengalaman di kota masing-masing. Obrolan mereka juga diselingi dengan canda dan tawa. Sungguh suasana yang sangat romantis.
Namun, tiba-tiba Reva meminta sesuatu kepada Kevin.
''emm, sayang aku boleh minta sesuatu gak?
''anything sayang, sebutin aja.''
''Peluk aku 3 menit aja,
''Ih apaan sih, yaudah sini aku peluk.
Saat mereka berpelukan, tidak diduga Reva meneteskan air mata.
''Loh, kenapa menangis yang?
''Gak papa kok, terharu aja bisa ketemu kamu. Kangen banget sih
 ''uuuh, so sweet yaudah sini aku peluk tambah erat.
Langit tampak mendung saat itu, mereka berdua memutuskan untuk pulang ke kontrakan. Setelah sampai rumah, mereka berdua langsung tidur.
Esok harinya Kevin akan balik ke Solo, karena ada urusan yang harus dikerjakan. Reva mengantarkan kekasihnya ke stasiun. Sekaligus mengucapkan selamat jalan kepada Kevin.
''Hati-hati ya yank. Kapan-kapan gantian aku yang pulang ke Solo
''iya sayang, aku tunggu lho.
'' I love u.
Kevin segera masuk dan mencari tempat duduk. Mereka berdua berpisah seiring jalanya roda kereta menuju Solo.
Setelah seminggu pulang dari Bandung, Kevin seakan lost contact dengan Reva. Di telepon gak diangkat, di sms gak pernah dibales. Perasaan marah dan kecewa meliputi Kevin saat itu. Kevin sudah mencari kabar dari keluarga dan teman-temanya, tapi juga tidak ada balasan.
Tiba-tiba Kevin mendapat telepon dari nomor asing.
''iya halo, ini siapa?
''emm, ini saya mamahnya Reva nak.
''Oh tante Ira, iya tante ada apa ya kok tumben?
''gini nak, ini soal Reva,maaf baru bisa menghubungi sekarang'' jawab tante Ira sambil menangis.
''kenapa tante menangis, ada apa dengan reva tante? Jawab!! Bersambung . . .

0 komentar

Peluk Aku 3 Menit (part 2)

''Halo sayang, makasih banget ya. Jaketnya bagus banget.
''Sama-sama sayang itu kado dari aku, maaf ya belum bisa pulang dan ketemu.
''ah gak papa sayang, asal kamu inget aku ulang tahun aja aku udah seneng banget. Aku sayang kamu Reva.
''Aku juga sayang banget sama kamu,'' balas Reva.
Obrolan lewat telepon itu berlangsung lama dan sangat bermakna.
Beberapa bulan kemudian Kevin merasa ada yang aneh dengan Reva. Dia seperti kurang semangat dan sering mengeluh sakit. Setiap Kevin tanya, Reva selalu bilang tidak ada apa-apa. Reva hanya bilang capek dan pusing karena tugas kuliah yang menumpuk. Kevin juga sudah  bertanya kepada Devi dan Didi adik kandung Reva. Namun, mereka berdua juga bilang tidak ada apa-apa. Kevin menjadi lebih tenang karena mereka bilang Reva baik-baik saja.
Suatu hari Kevin mendapat telepon dari Devi,
''Vin, Reva sering mengeluh pusing, bahkan kemarin dia pingsan.
''ah, serius dev. Aduh aku jadi khawatir nih..
''kamu tenang aja vin, kemarin udah aku bawa ke rumah sakit kok. Ini udah baikan dia.
''yaudah, makasih ya dev, tolong jagain Reva, soalnya aku gak ingin dia kenapa-kenapa.
''siap bos, itu udah jadi tugasku.
Setelah mendapat kabar itu Kevin langsung memarahi Reva, soalnya Reva tidak pernah bilang kalau dia sakit dan pernah jatuh. Setelah dijelaskan Kevin mengerti, Reva tidak ingin membuat Kevin khawatir. Tapi Kevin meminta apapun yang terjadi, Reva harus memberitahunya.
Dua minggu kemudian Kevin agak terkejut, karena Reva tiba-tiba menyuruh Kevin untuk menemuinya di Bandung. Sedikit heran, namun Kevin tetap berfikir positif.
''Ah, mungkin Reva kangen, udah lama gak ketemu juga.''
Sabtu malam, Kevin berangkat menuju Bandung dengan kereta. Kevin sudah tidak sabar untuk segera sampai dan bertemu dengan pujaan hatinya. Kemudian dia terlelap tidur ditemani dengan suara gesekan roda kereta dengan rel.
Esok paginya sampai juga Kevin di Bandung, di depan stasiun Kevin sudah dijemput oleh kekasihnya.
''Halo sayangg, apa kabar? Kangen banget ni,'' ujar Reva
''iya aku juga kangen banget sama kamu,'' jawabnya sambil memeluk erat tubuh Reva.
''Ada apa nih yang, tumben dadakan suruh ke Bandung?
''ntar aja di kontrakan aku ceritain,pokoknya surprise.
Setelah sampai di kontrakan, mereka berdua ngobrol panjang lebar. Maklum sepasang kekasih yang dipisahkan jarak, sekali ketemu langsung melepas rindu. Kemudian mereka berbicara tentang inti kenapa Kevin disuruh ke Bandung.
''Gini, aku pengen ngajak kamu ke puncak yang. Udah lama aku pengen ngajakin kamu kesana.
''wah, menarik sekali itu. Yaudah besok pagi ya. Sekarang aku istirahat dulu.
''ok sayang.
Pagi harinya Kevin mengarahkan mobilnya ke puncak. Setelah beberapa jam mereka berdua sampai juga di kawasan puncak. Udara yang begitu dingin dan sejuk menambah romantis suasana. Reva mengajak Kevin ke sebuah kebun teh. Kemudian mereka berdua sampai di sebuah kebun teh yang sangat luas dan hijau. Bersambung . . .

 
;